Penguatan Implementasi PM-AAS melalui Koordinasi dan Pendayagunaan Teknologi Pertanian
Tegal, 13 Agustus 2026 — Balai Perakitan dan Pengujian Agroklimat dan Hidrologi Pertanian (BRMP Agroklimat) melaksanakan Rapat Koordinasi dan Pendayagunaan Hasil Perakitan Teknologi untuk Mendukung Implementasi Pertanian Modern, Mandiri, dan Berkelanjutan (PM-AAS) di KPRI Bhakti Husada, Tegal, Kamis (13/8). Kegiatan diikuti 75 peserta yang terdiri atas unsur pemerintah daerah, penyuluh, dan pemangku kepentingan terkait.
Kegiatan ini menjadi forum untuk memperkuat koordinasi dan komunikasi antarpihak sekaligus mendorong pemanfaatan hasil perakitan dan pengujian teknologi pertanian agar dapat diterapkan sesuai kebutuhan di lapangan.
Dalam sambutannya, Kepala BRMP Agroklimat menekankan pentingnya penerapan prinsip-prinsip PM-AAS secara konsisten. Beberapa hal yang menjadi perhatian meliputi ketepatan input data CPCL, pemanfaatan inovasi alat tanam drum seeder, pengembangan pupuk silika berbahan arang sekam, serta penguatan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh, dan kelompok tani.
Memperkuat Koordinasi dan Monitoring PM-AAS
Pada sesi koordinasi PM-AAS yang disampaikan Rima Purnamayani, dibahas perkembangan realisasi Luas Tambah Tanam (LTT) bulan Juli serta kebutuhan untuk terus meningkatkan capaian sesuai target. Penetapan target juga dapat didiskusikan dan disesuaikan antarwilayah dengan tetap memperhatikan kondisi lapangan.
Selain itu, ditekankan bahwa pelaporan LTT reguler dan PM-AAS dilakukan secara terpisah. Peserta juga diarahkan untuk segera menyampaikan CPCL SIPMAAS dan melakukan input data ke dalam sistem sebagai bagian dari monitoring pelaksanaan PM-AAS.
Diskusi bersama perwakilan Dinas Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Brebes, dan Kota Tegal turut mengidentifikasi berbagai tantangan di lapangan, terutama terkait ketersediaan air, infrastruktur irigasi, bantuan benih, serta kondisi lahan.
Di Kabupaten Brebes, pelaksanaan PM-AAS masih menghadapi kendala ketersediaan sumber air permanen. Kerusakan sejumlah bendung akibat musim hujan turut memengaruhi ketersediaan air untuk pertanian. Kondisi tersebut mendorong perlunya dukungan pemerintah pusat dalam penanganan infrastruktur sumber daya air, termasuk pengembangan sumber air alternatif seperti sumur bor atau sumur pantek.
Sementara itu, Kota Tegal menghadapi tantangan berupa ketergantungan sumber air dari Kabupaten Tegal, genangan pada musim hujan, serta intrusi air laut yang memengaruhi lahan pertanian. Optimalisasi pengelolaan air dan penggunaan varietas yang lebih adaptif menjadi salah satu alternatif yang perlu terus dikembangkan.
Menanggapi berbagai persoalan tersebut, Kepala BRMP Agroklimat mendorong pengawalan yang lebih maksimal oleh penyuluh, peningkatan koordinasi dengan pihak terkait dalam penanganan bendung bermasalah, serta percepatan pengusulan CPCL bantuan benih.
SIPMAAS Mendukung Pelaporan dan Monitoring
Materi berikutnya membahas Pengenalan dan Pemanfaatan Sistem Informasi PM-AAS (SIPMAAS) sebagai Sarana Pelaporan dan Monitoring PM-AAS. SIPMAAS digunakan untuk mendukung proses pelaporan dan pemantauan pelaksanaan kegiatan melalui pengelolaan data secara terintegrasi.
Peserta diperkenalkan dengan menu navigasi sistem, proses login berdasarkan wilayah dan desa, pengisian data, serta pemanfaatan data tabular dan spasial. Sistem juga menyediakan rekapitulasi luas tanam dan panen serta data spasial lahan untuk membantu proses monitoring.
Pengenalan Pembuatan Pupuk Silika Cair
Materi selanjutnya adalah Pembuatan Pupuk Silika Cair Berbahan Arang Sekam. Sekam padi sebagai hasil samping penggilingan memiliki kandungan silika yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan dan produktivitas tanaman.
Pemanfaatan silika diharapkan dapat membantu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit, mendukung proses pengisian bulir, serta mengoptimalkan produksi dan mutu hasil pertanian.
Peserta juga berdiskusi mengenai bahan baku alternatif, proses ekstraksi, fungsi bahan dalam proses pembuatan silika, pemanfaatan abu hasil pembakaran, hingga kemungkinan penyederhanaan proses agar teknologi dapat lebih mudah diterapkan di tingkat kelompok tani.
Drum Seeder Sederhana untuk Percepatan Tanam
Pada sesi Sharing Session Penerapan Drum Seeder Sederhana, Agus Sairi, PPL dari Ponorogo, membagikan pengalaman pengembangan dan penggunaan alat tanam tersebut di lapangan.
Drum seeder dirancang untuk membantu mempermudah dan mempercepat proses tanam padi. Alat dibuat menggunakan pipa berukuran 4 inci dengan modifikasi lubang keluarnya benih dan garis tanam agar benih dapat jatuh lebih teratur.
Desain drum seeder yang dapat dibongkar-pasang, relatif ringan, dan tidak terlalu panjang membuat alat lebih mudah dipindahkan serta sesuai digunakan pada petakan sawah yang tidak terlalu luas. Roda yang dibuat berongga juga membantu alat bergerak lebih mudah pada kondisi lumpur sawah.
Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa bagian yang dapat disempurnakan, seperti ukuran lubang keluarnya benih, panjang garis tanam atau garuk, serta posisi pijakan pengguna agar tidak mengganggu titik jatuh benih. Dengan bahan dan rancangan yang relatif sederhana, drum seeder tersebut dapat dibuat dengan biaya sekitar Rp1,2 juta.
Melalui kegiatan ini, BRMP Agroklimat terus mendorong agar hasil perakitan dan pengujian teknologi tidak berhenti pada tahap pengembangan, tetapi dapat didayagunakan dan diadopsi sesuai kebutuhan pengguna. Penguatan koordinasi, pemanfaatan data digital, serta penerapan teknologi yang adaptif diharapkan dapat mendukung percepatan implementasi PM-AAS dan peningkatan produktivitas pertanian di Jawa Tengah.